 Setiap pelaku bisnis pasti yakin bahwa bisnis yang ditekuninya adalah yang terbaik. Kalo enggak, ngapain ditekuni?
Buat gue, bisnis yang terbaik adalah bisnis makanan. Kenapa?
Ada banyak faktor, tapi di sini gue mau bahas 4 faktor terpenting (menurut gue).
- Tahan krisis
Kalo kata buku pelajaran IPS (eh, masih ada nggak sih pelajaran itu? atau udah ganti nama, ya?) kebutuhan pokok manusia adalah sandang, pangan, dan papan. Dari ketiga kebutuhan itu, menurut gue, pangan alias makanan adalah yang paling penting. Kalo lagi seret, orang bisa menunda beli baju baru. Nggak punya rumah, orang masih bisa bertahan hidup. Tapi setiap hari, orang butuh makan.
Dalam konteks bisnis, makanan adalah pos terakhir yang dipotong dalam rangka pengiritan. Waktu krisis, banyak kantor memotong anggaran untuk mobil dinas, biaya training, atau pemakaian listrik. Tapi untuk konsumsi meeting, suguhan tamu, atau catering makan siang, hampir nggak ada penurunan yang berarti.
Itulah sebabnya, dalam kondisi krisis, bisnis makanan paling besar potensinya untuk bertahan.
- Promosinya gampang
Waktu baru lulus kuliah, gue kerja di sebuah perusahaan penyelenggara training. Walaupun bukan bagian marketing, gue suka ikutan boss meeting sama calon klien, untuk nawarin paket training. Saat itu gue ngeliat betapa susahnya jualan 'benda abstrak' seperti paket training. Pertanyaan yang muncul selalu sama, "Gimana saya bisa tau bahwa paket training Anda cukup layak untuk saya beli?"
Ini wajar, karena pada dasarnya orang pasti ingin mendapatkan yang terbaik untuk setiap rupiah yang mereka bayarkan. Masalahnya, mereka nggak bisa tau kualitas paket training perusahaan gue sebelum mereka memutuskan untuk membelinya.
Masalah ini nggak terjadi pada bisnis makanan.
Promosi yang perlu kita lakukan sederhana aja: kasih sampel kepada calon pembeli, biar mereka liat bentuknya, cicipi rasanya, ketahui harganya. Kalo cocok, mereka akan beli. Kalo nggak cocok, mereka nggak akan beli. Case closed. Gampang banget kan?
- Punya kemampuan duplikasi otomatis
Sekarang coba inget, makanan apa yang biasanya lo makan sendirian?
Umumnya nggak jauh dari mi instan, atau telor ceplok, atau abon. Dengan kata lain, makanan-makanan yang dimakan dalam keadaan 'darurat' - untuk mengganjal perut lapar.
Selebihnya, orang biasanya berbagi makanan dengan seseorang.
Dan biasanya, orang hanya mau berbagi makanan yang dianggapnya baik. Bisa ditebak, yang dikatakan orang saat itu adalah, "Cobain deh risol kribo ini, enak!" atau "Nih, gue kirimin fruitpie terenak di Indonesia."
 fruitpie terenak di Indoneia
Saat itulah, proses duplikasi udah terjadi. Para pembeli udah menjadi agen promosi kita, secara gratis.
- Berpotensi menimbulkan fanatisme
Salah satu fenomena di dunia bisnis makanan Jakarta adalah Burger Blenger.
Kedai pinggir jalan ini mampu membuat para calon pembeli rela ngantri selama rata-rata 45 menit untuk mendapatkan sepotong burger. Padahal dia bukan satu-satunya kedai burger di Jakarta. Banyak kedai burger lain, dengan harga yang mungkin lebih murah, dan rasa yang kalau mau jujur nggak terpaut jauh.
Tapi toh orang rela 'berkorban' sedemikian besar, karena mereka udah 100% yakin bahwa Burger Blenger adalah yang terenak. Dan kalo pembeli udah mencapai taraf 'fanatik', maka soal harga, pengorbanan nunggu, dan tetek-bengek lainnya udah bukan lagi jadi masalah.
Kenapa bisnis makanan? Kenapa enggak?
|